Kedudukan Sahabat Nabi - Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah Karya Hadlratus Syaikh Hasyim Asy'ari - 5


 

___________________________________________

قال المؤلف رحمه الله تعالى: قال القاضي عياض في الشفا: عن عبد الله بن مغفّل رضي الله عنه قال: قال رسولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم: اللّهَ اللّهَ في أَصْحَابِي اللّهَ اللّهَ في أَصْحَابِي، لا تَتّخِذوهُمْ غَرَضاً بَعْدِي، فَمَنْ أَحَبّهُمْ فَبِحُبّي أَحَبّهُمْ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ، وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِي، وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللّهَ، وَمَنْ آذَى اللّهَ يُوْشِكُ أَنْ يَأْخُذَه
Al Qadli 'Iyadl dalam kitab as Syifa berkata: Dari Abdullah bin Mughoffal radliyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda: (Aku berwasiat pada kalian untuk takut pada Allah) dalam bersikap pada para sahabatku, Janganlah kalian jadikan mereka sebagai sasaran (cacian) setelahku, barang siapa yang mencintai mereka maka dengan cintaku dia mencintai mereka dan barang siapa yang benci terhadap mereka maka dengan kebencianku dia membenci mereka, barang siapa yang menyakiti mereka maka dia telah menyakitiku, barang siapa yang menyakitiku maka dia telah menyakiti Allah dan barang siapa yang menyakiti Allah maka dikhawatirkan Allah akan mengadzabnya". Catatan :
  • Sahabat nabi adalah orang yang pernah bertemu dengan nabi di masa hidup nabi, beriman kepadanya dan mati dalam keadaan beriman.
  • Sahabat nabi yang paling mulia adalah Abu Bakr as Shiddiq, Umar ibn al Khaththab, Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Tholib, dan 6 sahabat lainnya dari 10 sahabat yang dikabarkan akan masuk surga.
  • Hadits di atas adalah celaan terhadap kelompok Rofidloh yang membenci, mencaci bahkan mengkafirkan para sahabat Nabi seperti Abu Bakr, Umar ibn al Khaththab, sayyidah Aisyah dan lainnya.
  • Hadits ini juga celaan terhadap kelompok Khowarij yang juga membenci, mencela bahkan mengkafirkan para sahabat seperti Ali bin Abi Tholib, Mu'awiyah bin Sufyan, Amr ibn al Ash, Abu Musa al Asy'ari dan seluruh sahabat yang menyetujui tahkim.
  • Orang yang membenci para sahabat diancam dengan adzab Allah.
___________________________________________

قال المؤلف رحمه الله تعالى: وقال رسولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم: {لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَمَنْ سَبَّهُمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَاسِ أَجْمَعِيْنَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ صَرْفاً ولاَ عَدْلاً}، وقال صلى الله عليه وسلم: {لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فإنهُ يَجِىْءُ قَوْمٌ فِيْ آخِرِ الزَمَانِ يَسُبُّوْنَ أَصْحَابِيْ، فَلاَ تُصَلوّا عَلَيْهِمْ، وَلاَ تُصَلَوّا مَعَهُمْ، وَلاَ تناكِحُوْهُمْ، وَلاَ تُجَالِسُوْهُمْ، وَإِنْ مَرِضُوْا فَلاَ تَعُوْدُوْهُم }
Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda: "Janganlah kalian mencaci para sahabatku, barang siapa mencaci mereka maka baginya laknat Allah, para malaikat dan semua manusia, Allah tidak menerima darinya ibadah yang fardlu dan yang sunnah". Rasulullah shallallahu alayhi wasallam juga bersabda: "Janganlah kalian mencaci para sahabatku, sesungguhnya akan datang di akhir zaman kaum yang mencaci para sahabatku, maka janganlah kalian menshalati (jenazah) mereka, dan jangan shalat bersama mereka, janganlah kalian saling menikahkan dengan mereka, jangan berteman dengan mereka, apabila mereka sakit jangan kalian jenguk mereka". Catatan :
Berdasarkan dua hadits di atas para ulama merinci hukum mencaci para sahabat:
  • Kufur Yaitu membenci dan mencaci seluruh para sahabat, tanpa terkecuali.
  • Dosa besar
  1. Yaitu mencaci sebagian sahabat saja.
  2. Jika yang dicaci adalah para wali dari kalangan sahabat seperti Abu Bakr, Umar ibn al Khaththab, Utsman ibn Affan dan Ali bin Abi Tholib serta semua sahabat yang tergolong sebagai as Sabiqun al Awwalun maka dosanya lebih berat
Allah ta'ala berfirman :
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
"Dan orang-orang yang dahulu serta awal (dalam masuk Islam), baik dari kalangan muhajirin maupun anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam berbuat kebaikan, Allah meridloi mereka dan mereka Ridlo terhadap Allah"
Tidak termasuk mencaci sahabat orang yang mengatakan, orang yang memerangi Sayyidina Ali adalah bughot. Karena hal itu sesuai dengan hadits mutawatir, bahwa Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda:
ويح عمار تقتله الفئة الباغية
"Sungguh kasian Ammar dibunuh oleh kelompok pemberontak" HR al Bukhari.

___________________________________________

قال المؤلف رحمه الله تعالى: وعنه صلى الله عليه وسلم: {مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ فَاضْرِبُوْه}، وقد أعلم النبي صلى الله عليه وسلم أن سبهم وأذاهم يؤذيه، وآذى النبي صلى الله عليه وسلم حرام، فقال: {لاَ تُؤْذُوْني فِيْ أَصْحَابِيْ، وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِيْ}، وقال: {لا تؤذوني في عائشة}، وقال في فاطمة رضي الله عنها: {بضعة مني، يؤذيني ما آذاها}.
"Barang siapa yang mencaci para sahabatku maka pukullah dia" Nabi telah memberitahu bahwa mencaci para sahabat dan menyakiti mereka adalah menyakiti Nabi, dan menyakiti Nabi shallallahu alayhi wasallam adalah haram. Rasulullah bersabda: Janganlah menyakitiku pada para sahabatku, barang siapa yang menyakiti mereka maka dia betul-betul telah menyakitiku". Beliau juga bersabda: "Janganlah kalian menyakitiku pada Aisyah". Beliau bersabda tentang Fatimah Rodiallahu anha: "Fatimah adalah bagian dariku, menyakitiku sesuatu yang menyakiti nya". Catatan :
  • Hadlratus Syaikh Hasyim Asy'ari membantah kelancangan kelompok Rofidloh dalam mencaci maki para sahabat, dengan menyebutkan beberapa hadits yang menegaskan bahwa mencaci dan menyakiti para sahabat sama dengan menyakiti Rasulullah shallallahu alayhi wasallam.
  • Sebagian hadits secara khusus mencela kelompok yang membenci dan mencaci sayyidah Aisyah rodliyallahu 'anha dan sayyidah Fathimah, Kelompok Syi'ah Rofidloh adalah kelompok yang berlebihan dalam mencaci sayyidah Aisyah. Bahkan salah satu tokoh mereka menyatakan bahwa Aisyah sekarang ini sudah di neraka.
sumber :
والله اعلم بالصواب
LDNU KAB KEDIRI

Ngaji Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jam’ah Karya Hadlratus Syaikh Hasyim
Oleh : Ustadz Dr Asy'ari Masduki, S.HI., MA

Menjelaskan Kelompok Rofidloh atau Syi'ah - Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah Karya Hadlratus Syaikh Hasyim Asy'ari - 4



 ___________________________________________

قال المؤلف رحمه الله تعالى:

ومنهم رافضيون يسبون سيدنا أبا يكر وعمر رضي الله عنهما ويكرهون الصحابة رضي الله عنهم ويبالغون هوى سيدنا علي وأهل بيته رضوان الله عليهم.
"Di antara mereka (kelompok menyimpang) adalah orang-orang Rofidloh, mereka mencaci maki Sayyidina Abu Bakar dan Umar Rodliyallahu anhuma, mereka membenci para sahabat -rodliyallahu 'anhum-, mereka berlebihan dalam mencintai Sayyidina Ali dan keluarganya -semoga Allah meridloi mereka semua-" Catatan :
  • Kelompok menyimpang selanjutnya yang disebutkan oleh Hadlratus Syaikh Hasyim Asy'ari adalah kelompok Rofidloh atau Syi'ah.
  • Kelompok Syi'ah adalah kelompok yang mengaku-ngaku sebagai pendukung dan pencinta Sayyidina Ali bin Abi Tholib dan ahlul bait, padahal Sayyidina Ali bin Abi Tholib tidak Ridlo akan hal itu dan beliau bukanlah bagian dari kelompok Rofidloh ini.
Di antara ciri khas kelompok ini adalah :
> Membenci, memusuhi dan mencaci maki para sahabat terutama Abu Bakr dan Umar ibn al Khoththob.
Padahal kesahabatan Abu Bakr telah ditetapkan dalam Al Qur'an.
إِذۡ یَقُولُ لِصَـٰحِبِهِۦ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ [Surat At-Taubah 40]
Abu Bakr adalah adalah wali Allah yang termulia, lebih mulia dari seluruh wali sejak zaman nabi Adam sampai kiamat, setelah itu Umar ibn Khoththob, Usman ibn Affan dan Ali bin Abi Tholib Rodliyallahu anhum.
> Ghuluw (berlebihan) dalam memuji dan mensifati Sayyidina Ali bin Abi Tholib
  1. Sebagian mereka mensifati beliau dengan sifat seorang Nabi
  2. Sebagian mereka mensifati beliau dengan sifat ketuhanan.
___________________________________________

قال المؤلف رحمه الله تعالى: قال السيد محمد في شرح القاموس: وبعضهم يرتقي إلى الكفر والزندقة أعاذنا الله والمسلمين منها
"As Sayyid Muhammad dalam Syarah al Qomus mengatakan: Sebagian orang-orang Rofidloh kesesatannya naik sampai pada kekufuran dan kezindikan, semoga Allah melindungi kita dan umat Islam dari kelompok ini". Catatan :
  • Kelompok Syiah terpecah belah menjadi banyak kelompok. Sebagian ulama menyebut, kelompok ini terpecah menjadi 26 kelompok, 6 di antaranya adalah syi'ah yang ekstrim (ghulat)
  • Sebagian mereka, kesesatannya tidak sampai pada batas kekufuran, seperti syiah yang meyakini keutamaan Sayyidina Ali di atas sahabat yang lain tanpa mencela, memusuhi atau mengkafirkan Abu Bakr dan Umar.
  • Sebagian yang lain, kesesatannya telah sampai pada batas kekufuran., Mereka adalah seperti yang mensifati Sayyidina Ali bin Abi Tholib dengan sifat ketuhanan atau kenabian, Seperti Syi'ah yang menafikan kesahabatan Abu Bakr serta mengkafirkan para sahabat.

sumber :
والله اعلم بالصواب
LDNU KAB KEDIRI

Ngaji Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jam’ah Karya Hadlratus Syaikh Hasyim
Oleh : Ustadz Dr Asy'ari Masduki, S.HI., MA

Pengertian Hukum Makruh dalam Ushul Fiqh


Al Makruh secara harfiyah bermakna sesuatu yang dibenci. Secara Ushul Fikih, makruh adalah

الكراهة هي خطاب الله تعالى الطلب للكف عن الفعل طلبا غير جازم.

Karahah adalah khithab/titah/firman Allah Taala yang menuntut untuk meninggalkan suatu perbuatan dengan tuntutan yang tidak tegas.


Sedangkan secara hukum/fikih, makruh adalah

ما يثاب على تركه ولا يعاقب على فعله

Yakni suatu larangan yang jika ditinggalkan (untuk mengikuti perintah Allah) mendapat pahala dan jika dikerjakan tidak mendapat siksa.

Makruh adalah kebalikan dari hukum mandub/sunnah.

Contoh: menolah-noleh dalam sholat, berkumur & menghirup air di hidung saat wudhu ketika puasa ramadhan, dll.

Makruh ditunjukkan oleh *nahi maqshud*, atau larangan yang tertuju pada perkara tertentu, baik melalui nash, ijma' & qiyas. Seperti makruhnya meninggalkan sholat tahiyatul masjid, berdasarkan larangan khusus dalam hadits:

إِذَ دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسُ حَتَّى يُصَلَّيَ رَكْعَتَيْنِ

"Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk hingga mengerjakan shalat dua rakaat (tahiyatul masjid)".

Hukum Makruh diketahui melalui beberapa petunjuk antara lain:
:small_blue_diamond:1. Kalimat berita memiliki materi kata kerja menunjukkan atas makruh.
Contoh dalam hadits nabi:

ﺃَﺑْﻐَﺾُ ﺍﻟْﺤَﻠَﺎﻝِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺍﻟﻄَّﻠَﺎﻕُ

“Perkara halal yang dibenci Allah Ta’ala adalah thalaq (perceraian)”. [Sunan Abu Daawud 3/505]

Atau seperti sabdanya pula:

*ﻭَﻳَﻜْﺮَﻩُ* ﻟَﻜُﻢْ ﻗِﻴﻞَ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻭَﻛَﺜْﺮَﺓَ ﺍﻟﺴُّﺆَﺍﻝِ ﻭَﺇِﺿَﺎﻋَﺔَ ﺍﻟْﻤَﺎﻝِ

“Dan Dia (Allah) pun membenci (memakruhkan) tiga hal bagi kalian, menceritakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya, dan membuang-buang harta”. (HR. Muslim no. 1715)

:small_blue_diamond:2. Sighat Nahy, disertai qarinah (indikator) yang mengalihkan pada makna makruh.
Contoh dalam firman Allah:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَسْــئَلُوْا عَنْ اَشْيَآءَ اِنْ تُبْدَ لَـكُمْ تَسُؤْكُمْ ۚ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, (justru) menyusahkan kamu." (QS. Al-Ma'idah [5]: Ayat 101)
Larangan di atas disertai qarinah pada lanjutan ayatnya (Silahkan buka QS. Al Ma'idah [5]: Ayat 101)

Atau sabda nabi,

ﺩَﻉْ ﻣَﺎ ﻳَﺮِﻳْﺒُﻚَ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﺎ ﻻَ ﻳَﺮِﻳْﺒُﻚ (ﺭَﻭَﺍﻩُ ﺍﻟﺘِّﺮْﻣِﺬِﻱُّ ﻭَﺍﻟﻨَّﺴَﺎﺋِﻲُّ)

"Tinggalkan sesuatu yang meragukanmu, menuju kepada sesuatu yang tidak meragukanmu” .(HR. Tirmidzi dan an-Nasa'i.

Larangan dalam hadits ini diarahkan pada hukum makruh karena sesuatu yang meragukan belum jelas statusnya, sehingga tidak bisa disifati dengan halal atau haram.

Sighot yang biasa dipakai antara lain: lafaz Mana'a (منع ما امر الله), bermakna mencegah, atau lafaz Laa Yamna' (لا يمنع), artinya tidak mencegah, atau lafaz Haata (هات) artinya jauhilah, dlsb.

:small_blue_diamond:3. Berbentuk sighat amr, tetapi ada qarinah yang menunjukkan bahwa perbuatan ini dimakruhkan (menurut sebagian ulama), seperti dalam QS. Al Jumu'ah yang pernah dibahas pada bab haram.

... وَذَرُوْا الْبَيْعَ ...

"...Dan tinggalkanlah jual beli..." (QS. Al Jumu'ah, [62]: Ayat 9).

Lafaz/sighot yang dipakai dalam bentuk ketiga ini umumnya berbentuk فاجتنبوه, فكرهتموه, dlsb.

Jadi, perbuatan makruh dapat diketahui dalam bentuk kalimat berita (affirmative), perintah (command) maupun larangan (prohibition) yang menunjukkan pada bentuk makruh.

Mayoritas ulama (jumhur) menganggap makruh itu hanya satu. Sedang ulama madzhab Hanafi membagi makruh menjadi: makruh tanzih dan makruh tahrim.

1. Makruh Tanzih,
Yaitu perkara yang dituntut untuk ditinggalkan dengan perintah yang tidak tegas. Makruh Tanzih menurut Hanafiyah ini sama pengertiannya dengan makruh menurut Jumhur Ulama. Makruh Tanzih lawan dari sunnah/mustahab/mandub.

Contoh larangan Nabi untuk bersidekap (memasukkan jemari salah satu tangan ke jemari tangan yang lain) di dalam masjid.

Teks hadits:

ﺇِﺫَﺍ ﺗَﻮَﺿَّﺄَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴَﻦَ ﻭُﺿُﻮﺀَﻩُ ﺛُﻢَّ ﺧَﺮَﺝَ ﻋَﺎﻣِﺪًﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﻓَﻠَﺎ ﻳُﺸَﺒِّﻜَﻦَّ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻓِﻲ ﺻَﻠَﺎﺓٍ

Artinya: Apabila salah seorang dari kalian berwudhu, sempurnakanlah wudhunya. Kemudian, apabila ia keluar menuju Masjid dengan sengaja, maka janganlah ia bersidekap, atau, mempersilangkan jari jemari, karena saat berjalan itu ia berada dalam shalat.

2. Makruh Tahrim,
Adalah perkara yang dilarang oleh syariah dengan larangan pasti (jelas); berupa dalil dzanni wurud (dugaan kuat), seperti dalil berasal dari hadits Ahad atau Qiyas. Menurut Jumhur Ulama (selain Hanafiah) memasukkan makruh tahrim ke dalam hukum haram.

Contoh: Nabi SAW bersabda:

ﻻ ﻳﺤﻞ ﻟﻠﻤﺆﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﺒﺘﺎﻉ ﻋﻠﻰ ﺑﻴﻊ ﺃﺧﻴﻪ ، ﻭﻻ ﻳﺨﻄﺐ ﻋﻠﻰ ﺧﻄﺒﺔ ﺃﺧﻴﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺬﺭ .

"Orang muslim tidak halal membeli barang yang dibeli saudaranya dan tidak melamar wanita yang dilamar saudaranya (sesama muslim) kecuali setelah meninggalkannya". (HR. Muslim)

Hadits ini adalah hadits Ahad yang tingkat kepastiannya bersifat dzanni wurud (bukan mutawatir).

Perbedaan Makruh Tahrim & Makruh Tanzih antara lain:

1. Makruh Tahrim Hanafiyah = Haram menurut Jumhur.

2. Makruh Tanzih Hanafiyah = Makruh menurut Jumhur.

3. Makruh Tanzih adalah makruh yang lebih dekat ke arah mubah/boleh; sedangkan makruh tahrim adalah makruh yang lebih dekat ke arah haram.
4. Kebalikan Makruh Tanzih adalah Sunnah. Sedang kebalikan dari Makruh Tahrim adalah (lebih dekat kepada) Wajib.

5. Melakukan Makruh Tanzih tidak mendapat siksaan, melakukan Makruh Tahrim mendapatkan siksaan.

Seperti pembahasan sebelumnya, makruh tahrim secara bahasa adalah makruh menurut Hanafiyah, tetapi hakikatnya adalah haram menurut Jumhur. Dikatakan makruh, karena ia bersumber dari dalil yang zhonni wurud/tsubut (seperti hadits ahad dan qiyas); dan dikatakan haram karena larangannya bersifat tegas.

*Perbedaan Makruh Tahrim dengan Haram*

Hukum haram ditetapkan berdasarkan dalil qath'i tsubut¹ (sumber, arah dan maknanya pasti) yang tidak memungkinkan ditakwil; sedangkan makruh tahrim ditetapkan berdasarkan dengan dalil zhanni tsubut (sumbernya diduga kuat, dan memungkinkan diarahakan pada makna lain, melalui takwil).

Persamaannya adalah, antara makruh tahrim dan haram, sama-sama berdosa jika dikerjakan. Ini berbeda dengan makruh (tanzih) yang tidak mendapatkan dosa jika dilakukan.

Notebook:
¹ Dalil secara sumbernya dibagi: (1) Qath'i tsubut/wurud (sumbernya pasti, mutawatir, seperti: Al Quran & Hadits Mutawatir); (2) Zhanni tsubut/wurud (sumbernya diduga kuat pasti dan meyakinkan, tetapi tidak mutawatir, seperti: Hadits Ahad & Qiyas). Sedangkan dilihat dari penunjukannya, dalil dibagi menjadi: (1) Qath'i dilalah (petunjuknya tegas, tidak ada peluang takwil/tidak ada peluang bermakna majazi); (2) Zhanni dilalah (petunjuknya diduga kuat & meyakinkan, tetapi berpeluang untuk dilakukan takwil/bermakna majazi.

Istilah "makruh" seringkali digunakan untuk berbagai penyebutan/maksud, selain dari yang dimaksud dalam definisi makruh itu sendiri.

Terkadang istilah makruh bermakna:
  1. Haram, yakni menyebut "makruh" tetapi yang dimaksud adalah haram.
  2. Sesuatu yang dicegah dengan pencegahan tanzih (pembersihan, tidak menyebabkan dosa bagi pelaku). Inilah yang dikehendaki ketika lafaz "makruh" diucapkan, yakni diarahkan kepada makna makruh tanzih.
  3. Meninggalkan hal yang lebih utama. Yakni menyebut "makruh", tetapi yang dikehendaki adalah hukum khilaful aula. Contoh: meninggalkan sholat dhuha, meninggalkan mandi jumat sering dikatakan makruh, karena meninggalkan sesuatu amalan yang utama/sunnah. Padahal yang benar, meninggalkan sesuatu yang sunnah dinamakan khilaful aula, bukan makruh. Karena, "makruh" terdapat suatu larangan yang dituju, seperti larangan banyak bertanya, larangan menyia-nyiakan harta, dll. Sedangkan "khilaful aula" itu tidak terdapat suatu larangan yang dituju, seperti tidak ada larangan meninggalkan sholat dhuha, tidak ada larangan meninggalkan mandi jumat, dll.
  4. Sesuatu yang masih terdapat "syubhat" dalam keharamannya. Seperti daging hewan buas, atau sedikitnya nabidz (minuman keras dari selain perasan anggur)

Pengertian Hukum Haram dalam Ushul Fiqh


Haram atau Tahrim adalah,

اَتَّحْرِيْمُ هُوَ خِطَابُ اللّه تَعَالَى الطَّالِبُ لِلْكَفِّ عَنِ الْفِعْلِ طَلَبًا جَازِمًا

Tahrim atau Haram adalah khithab/titah/firman Allah yang menuntut untuk meninggalkan sesuatu perbuatan, dengan tuntutan yang tegas/mengharuskan.

Definisi lain adalah

اَلْحَرَامُ هُوَ مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ وَيُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ

Haram atau Tahrim adalah suatu larangan jika dilakukan (dianggap berdosa serta) mendapatkan siksa; dan jika ditinggalkan mendapat pahala.

Jadi, tuntutan meninggalkannya bersifat sangat tegas, harus ditinggalkan.

Contoh hukum haram:

وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ *وَحَرَّمَ الرِّبٰوا ۗ *

"Padahal, Allah telah menghalalkan jual-beli *dan mengharamkan riba..."* (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 275)

Atau seperti contoh:

*وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰٓى* اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗ وَسَآءَ سَبِيْلًا

*"Dan janganlah kamu mendekati zina;* (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 32)

Haram dapat diketahui melalui beberapa petunjuk, antara lain:

:small_blue_diamond:a. Mengandung lafaz bermakna haram, ditunjukkan oleh nash menggunakan redaksi "harama" (حرم), seperti firman Allah SWT:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَاۤ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَاۤ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ ۗ وَمَا ذُ بِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِ ۗ ذٰ لِكُمْ فِسْقٌ ۗ ....

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah) (karena) itu suatu perbuatan fasik..." (QS. Al-Ma'idah [5]: Ayat 3)

:small_blue_diamond:b. Berbentuk lafaz nahiy yang ditunjuk oleh nash dengan menggunakan redaksi larangan dalam kata kerja, seperti firman Allah:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰٓى اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗ

"Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji..." (QS. Al-Isra' [17]: Ayat 32)

:small_blue_diamond:c. Berbentuk lafaz amr yang menunjukkan bahwa perbuatan itu harus dijauhi. Seperti firman Allah:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah [5]: Ayat 90)

:small_blue_diamond:d. Berbentuk perbuatan yang dianggap buruk dan bisa dikenakan sangsi hukum (diancam siksa), seperti firman Allah:

وَالَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ الْمُحْصَنٰتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوْا بِاَرْبَعَةِ شُهَدَآءَ فَاجْلِدُوْهُمْ ثَمٰنِيْنَ جَلْدَةً وَّلَا تَقْبَلُوْا لَهُمْ شَهَادَةً اَبَدًا ۚ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

"Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berzina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik," (QS. An-Nur [24]: Ayat 4)

Jadi, hukum haram adalah hukum yang dapat diketahui melalui petunjuk lafaz yang berbentuk berita (affirmative), larangan (prohibition), perintah (command) dengan melihat qarinah atau tanda yang menunjukkan pada keharaman.

Hukum Haram setidaknya ada dua macam, yakni :

*1. Haram Li Dzatihi* (keharaman karena dzatnya).
Yakni segala sesuatu yang diharamkan oleh syariat karena esensinya mengandung kemudharatan bagi kehidupan manusia, dan kemudharatan itu tidak bisa terpisah dari zatnya. Contoh : Mencuri, khamr, darah, bangkai, dll.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَاۤ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَاۤ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ ۗ وَمَا ذُ بِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِ ۗ ذٰ لِكُمْ فِسْقٌ ۗ ‏

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah) (karena) itu suatu perbuatan fasik..." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 3)

*2. Haram Li Ghairihi* (karena ada faktor x yang membuatnya haram).
Yaitu segala sesuatu yang diharamkan karena adanya 'illat atau faktor di luar zatnya. Haram lighairihi asalnya halal, tapi menjadi haram karena adanya kondisi yang menjadikan ia haram. Contoh: jual beli secara zat halal, menjadi haram karena dilakukan ketika azan jumat dikumandangkan. Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jum'at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Jumu'ah 62: Ayat 9)

Dari ayat ini, jual beli menjadi haram ketika adzan jum'at sudah berkumandang. Maka Adzan jum'at disini adalah 'illat bagi diharamkannya jual beli. Artinya jika ada adzan jum'at, jual beli jadi haram. Jika tidak ada, maka kembali pada hukum asal yaitu boleh. Karena pada dasarnya jual beli hukumnya boleh. Dalilnya bolehnya jual beli :

وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ

"... Dan Allah telah menghalalkan jual-beli..." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 275)

Atau secara umum (sebaliknya), haram li ghairihi bisa memiliki 2 hukum, asalnya haram menjadi halal. Contoh : Aurat perempuan ajnabi (non mahrom yang diperbolehkan saling menikah) bagi laki-laki itu haram. Tapi ketika sudah menikah aurat yang tadinya haram menjadi halal. Maka 'illat keharaman aurat disini karena statusnya masih ajnabi. Sebagai penguat hujjah, kakak perempuan kita yang statusnya mahrom (bukan ajnabi), kita boleh bersalaman dengannya, dan si kakak perempuan pun boleh buka rambut di depan kita. Dan hasil akhinya pun jelas yang membuat aurat perempuan haram 'illatnya karena ajnabi (non mahrom). Illat disini adalah alasan yang membuat sesuatu itu haram.

Kesimpulannya: Haramnya jual beli pada saat adzan jum'at, dan aurat perempuan ajnabi, itulah yang dinamakan haram li ghairihi; sedangkan adzan jum'at dan status ajnabi (non mahrom) disini dinamakan 'illat (faktor external).

Sedangkan hukum asal haram li ghairihi ada kalanya wajib, ada kalanya sunah, dan ada kalanya mubah (boleh); dan 'illat inilah yang membuatnya haram. karena pada hakikatnya perbuatan asal tadi tidak mempunyai madharat apapun.

a. Contoh hukum asalnya wajib:
Sholat fardhu (wajib). Ghosob/mencuri (haram). Dan Sholat fardhu dengan baju ghosob menjadi haram (sebagian ulama berpendapat, sholatnya sah tapi pelakunya berdosa; sebagian lain berpendapat sholatnya tidak sah).

b. Contoh hukum asalnya sunah: Hukum asal puasa (di hari biasa) itu sunah. Tapi menjadi haram jika dilaksanakan pada hari raya Idhul fitri/hari tasyrik. Maka haramnya puasa di hari raya idhul fitri/hari tasyrik itu haram li ghairihi.

Pengertian Hukum Wajib dalam Ushul Fiqh


"Wajib" atau "wujub" dalam bahasa memiliki sinonim dengan kata "al tsubut" atau "al luzum" (artinya tetap atau positif), atau "al suquth" (artinya gugur).


Secara istilah, setidaknya memiliki makna:

الواجب شرعا هو ما يثاب على فعله ويعاقب على تركه.

"Wajib adalah suatu perbuatan jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan mendapat siksa".

Dalam pengertian lain, wajib bermakna,

الواجب شرعا هو ما طلب الشارع فعله من المكلف طلبا جازما.

Wajib menurut syara' adalah apa yang dituntut oleh syara' kepada mukallaf untuk dilakukan dengan tuntutan keras.

Atau

الإجاب هو خطاب الله تعالى الطالب للفعل طلبا جازما.

Ijab (Wajib) adalah khithab Allah (firman Allah) yang menuntut suatu perbuatan dengan tuntutan yang pasti.

Jika disimpulkan, wajib adalah khithab yang menuntut dilakukannya sebuah perbuatan selain mencegah, dengan tuntutan yang bersifat mengharuskan atau tidak boleh ditinggalkan.

Para ahli ushul bersepakat bahwa wajib itu dapat diketahui melalui beberapa petunjuk, diantaranya:

:small_blue_diamond:a. Melalui petunjuk lafaz itu sendiri, yang berbentuk:

1) Kata Amr (kata perintah), seperti firman Allah SWT:

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

"...dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku." (QS. Thaha: Ayat 14)

2) Berupa kata-kata yang memang menunjukkan makna wajib, seperti lafaz كتب dalam firman Allah SWT:

كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ

"...Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu..." (QS. Al-Baqarah: Ayat 183)

Juga lafaz فرض , seperti firman Allah:

فَاٰ تُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ فَرِيْضَةً ؕ

"...berikanlah maskawinnya kepada mereka sebagai suatu kewajiban..." (QS. An-Nisa': Ayat 24)

3) Disertai dengan ancaman hukuman keras jika ditinggalkan. Seperti firman Allah SWT:

(٤٢) مَا سَلَـكَكُمْ فِيْ سَقَرَ
(٤٣) قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَ

(42) "Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (Neraka) Saqar?"
(43) "Mereka menjawab, "Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan sholat," (QS. Al-Muddassir: Ayat 42-43)
:small_blue_diamond:b. Fiil Mudhari' yang diikuti lam amr, seperti:

ثُمَّ لْيَـقْضُوْا تَفَثَهُمْ وَلْيُوْفُوْا نُذُوْرَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوْا بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

"Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka, dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah)." (QS. Al-Hajj: Ayat 29)
:small_blue_diamond:c. Melalui petunjuk Qarinah (tanda/indikasi) lain, seperti:

وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ؕ
"...Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana..." (QS. Ali 'Imran: Ayat 97)

Hukum Wajib berdasar sudut pandang Waktunya, dibagi menjadi:

*a. Wajib Muthlaq*
Adalah sesuatu yang dituntut syariat untuk dilakukan oleh mukallaf tanpa ditentukan waktunya. Seperti: kewajiban membayar kafarat sebagai hukuman atas pelanggaran sumpah. Orang yang bersumpah tanpa mengaitkan waktu, lalu melanggar sumpahnya, maka kafarat-nya bisa ditunaikan kapan saja.

*b. Wajib Mu'aqqat,*
Adalah kewajiban yang harus dilaksanakan mukallaf pada waktu-waktu yang sudah ditentukan/tertentu. Seperti: Sholat & Puasa Ramadhan.

Wajib Mu'aqqat dibagi menjadi:

1) Wajib Muwassa' (waktu lapang)
Yakni kewajiban dimana waktu yang tersedia lebih lapang daripada pelaksanaan kewajiban itu sendiri, sehingga memungkinkan dilaksanakan amalan yang sejenis pada waktu itu. Dengan adanya kelapangan waktu, maka mukallaf bisa memilih untuk mengerjakan kewajiban di awal, tengah atau akhir waktu. Contoh: Kewajiban Shalat 5 kali, masing-masing memiliki waktu yang lapang. Sehingga, orang yang melakukan shalat dzuhur, misalnya, ia bisa mendahului & mengakhiri dengan shalat sunnah, karena waktu shalat dzuhur cukup lapang (di Indonesia sekitar 2-3 jam, antara 11.30-14.30)

2) Wajib Mudzayyaq (waktu sempit)
Yaitu kewajiban dimana waktu yang tersedia hanya mencukupi untuk melaksanakan kewajiban tersebut. Karena waktu yang sempit, hanya diperuntukkan pada amalan wajib, dan waktunya tidak bisa digunakan untuk amalan lain yang mendahului/mengakhiri. Dalam arti, amalan ini tidak ada waktu awal, tengah dan akhir waktu untuk memulai mengerjakannya. Contoh: Puasa Ramadhan, harus dan hanya ada pada bulan setelah Sya'ban dan sebelum Syawal, dilaksanakan selama sebulan penuh, mulai terbit fajar sampai matahari terbenam. Dan tidak bisa diundurkan, -misalnya dimulai dari waktu dhuha-, dan tidak bisa pula diakhirkan, -misalnya berbuka pada waktu ashar atau waktu isya'. Pada bulan Ramadhan, tidak bisa diselingi dengan puasa sunnah atau mengganti puasa yang tertinggal (qadha puasa).

3) Wajib Dzu Asy-syubhain (2 sisi waktu wajib)
Yakni kewajiban yang dipandang dari satu sisi mempunyai waktu yang lapang (muwassa'), tetapi pada sisi lain tidak bisa digunakan untuk amalan sejenis secara berulang-ulang (mudzayyaq). Contoh: kewajiban Haji, bisa dikerjakan pada tahun kapanpun, tahun lalu, tahun sekarang, atau tahun yang akan datang, karena waktunya lapang. Tetapi kewajiban haji tidak dilakukan berulang-ulang, pada tahun yang sama hanya sekali saja. Tidak mungkin seseorang melakukan haji 2 kali dalam tahun yang sama.

Wajib berdasarkan penetapan Kadar & Batasan, dibagi menjadi:

*a. Wajib Muhaddad*
Yakni suatu kewajiban yang ditentukan ukurannya oleh syara' dengan ukuran tertentu. Contoh: Jumlah rakaat shalat, jumlah wajib takaran zakat harta. Jumlah tersebut tidak boleh diubah, ditambah atau dikurangi.

*b. Wajib Ghairu Muhaddad*
Yakitu kewajiban yang ukuran dan jumlahnya tidak ditentukan syara'. Contoh: menafkahkan/menginfakkan harta di jalan Allah, saling menolong dalam kebaikan, dll.

Bahkan kewajiban ini terkadang diserahkan kepada para ulama dan umara untuk menentukan takarannya. Contoh: penetapan pajak, hukuman pidana (denda, penjara, mati) dalam jarimah ta'zir diserahkan kepada para qadhi (hakim). Dan dalam hal ini pelaku dan penentu hukum harus berorientasi pada tujuan syara' dan bersifat adil.

Dibagi menjadi:

*a. Wajib 'Aini (personal),*
Yakni kewajiban yang dibebankan kepada setiap pribadi mukallaf (baligh, berakal) dan tidak bisa digantikan oleh orang lain. Contoh: Kewajiban sholat 5 waktu, puasa, menjaga agama, dll.

Jika wajib 'aini tidak mampu dilakukan sendiri, salah satunya karena telah meninggal dunia, padahal kewajiban tersebut belum terlaksana oleh mukallaf; apakah kewajiban itu bisa gugur digantikan orang lain? Dalam hal ini ada 3 pendapat :
:small_blue_diamond:1) Kewajiban berhubungan dengan Harta, seperti zakat, bayar utang, dll; ulama sepakat bisa digantikan orang lain.
:small_blue_diamond:2) Kewajiban ibadah mahdhah, seperti sholat & puasa, ulama berbeda pendapat: a) tidak bisa digantikan orang lain; b) bisa digantikan orang lain. Seperti dalam hadits: "Siapa yang meninggal, sedangkan ia masih memiliki hutang puasa, maka yang membayarnya adalah walinya." (HR. Muslim: 1935).
:small_blue_diamond:3) Kewajiban dengan 2 dimensi, ibadah fisik & harta, seperti: haji. Ulama berbeda pendapat: a) Malikiyah & sebagian Hanafiyah sepakat, tidak bisa digantikan; b) Jumhur ulama sepakat, bisa digantikan. Seperti dalam hadits: "Ibuku bernadzar untuk haji, hanya terburu meninggal dunia, bolehkah aku menggantikan hajinya?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Silahkan, berhajilah engkau untuk menggantikannya, bukankah engkau sependapat sekiranya ibumu mempunyai hutang, bukankah engkau yang melunasi?" Wanita itu menjawab, "Ya." Lantas Nabi berkata: "Penuhilah hutang Allah, sebab Allah lebih berhak untuk dilunasi hutangnya." (HR. Bukhari: 6771).

*b. Wajib 'Kifa'iy (komunal),*
Yaitu kewajiban yang dituntut terlaksana, tanpa memandang siapa pelaksananya; dan kewajiban ini dibebankan kepada seluruh mukallaf secara komunal. Jika sudah ada walaupun satu orang yang melaksanakan kewajiban ini, maka sudah mencukupi untuk menggugurkan kewajiban bagi mukallaf yang lain. Tapi jika tak seorangpun yang melaksanakan, maka dosa ditanggung oleh semua mukallaf. Contoh: Sholat jenazah, menjawab salam pada sebuah kumpulan manusia, belajar bahasa Arab, dll.

Wajib Kifa'iy bisa berubah menjadi wajib 'Aini apabila yang mampu bertanggungjawab dalam kewajiban tersebut hanyalah seorang saja. Contoh: Menolong orang yang tenggelam di laut, danau atau sungai adalah wajib kifa'iy, selama kejadian itu disaksikan oleh banyak orang mukallaf. Akan tetapi, dari semua mukallaf yang menyaksikan itu, hanya satu orang saja yang bisa berenang. Maka, wajib kifa'iy yang dikenakan kepada sejumlah orang yang menyaksikan berubah menjadi wajib 'ain bagi orang yang pandai berenang saja. Contoh lain adalah, bila di suatu desa hanya ada seorang dokter, maka untuk melayani kesehatan masyarakat menjadi wajib 'aini bagi diri dokter yang hanya seorang tersebut.

Bagi orang yang tidak melaksanakan wajib kifayah secara langsung, hendaknya ia mendukung pelaksanaan wajib kifayah, baik dengan materi atau menciptakan suasana yang kondusif, dll demi lancarnya pelaksanaan wajib kifayah tersebut.

Dibagi menjadi:
*a. Wajjb Mu'ayyan (tertentu)*
Yakni kewajiban yang sudah tertentu, tanpa ada hak pilih & hak tawar. Seperti: Shalat & puasa.

*b. Wajib Mukhayyar (hak pilih) atau Mubham (tersamarkan)*
Yakni, sesuatu yang dituntut oleh syara' secara tersamarkan di antara beberapa pilihan yang telah ditentukan, seperti salah satu dari bentuk kafarat bagi pelanggar sumpah (QS. Al Maidah, 3: 89); kafarat bagi muslim yang berjimak saat berpuasa di siang bulan ramadhan.

والأصح ترادف الفرض والواجب، كالمندوب والمستحب والتطوع والسنة والخلف لفظي.

"Menurut pendapat Ashah (lebih valid), fardhu dan wajib adalah dua lafaz semakna. Seperti lafaz mandub, mustahab, tathawwu' & sunnah. Perbedaan tersebut sebatas retorika lafaz" (Lubb Al Ushul).

Dalam redaksi Jam'u al Jawami disebutkan,

والفرض والواجب مترادفان خلافا لأبي حنيفة وهو لفظي.

"Fardhu dan wajib adalah dua lafaz semakna; ini berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Dan perbedaan pendapat tersebut sebatas khilaf lafaz".

Ulama berselisih pendapat mengenai pemaknaan dan penggunaan istilah fardhu & wajib.
1. Menurut kalangan Hanafiyah, antara wajib & fardhu keduanya berbeda. Wajib adalah hukum yang ditetapkan berdasarkan dalil zhanni ats tsubut (hadits ahad & qiyas madhnun), dan fardhu adalah hukum yang ditetapkan berdasarkan dalil qath'i ats tsubut (Al Quran & Hadits Mutawatir).

Contoh: hukum wajib membaca fatihah dalam sholat berdasarkam dalil zhonni, berupa hadits ahad riwayat Bukhari-Muslim.

لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب.

"Tidaklah sempurna sholat seseorang yang tidak membaca fatihahnya Al Quran".

Konsekuensinya, seseorang sholat tanpa fatihah, tidak membatalkan sholat (baca: sah), tapi berdosa.

Sedangkan contoh hukum fardhu adalah membaca Al Quran dalam sholat berdasar dalil qath'i, berupa ayat Al Qur'an:

فَاقْرَءُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْاٰنِ ؕ

"...maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an..." (QS. Al-Muzzammil: Ayat 20)

2. Menurut kalangan Syafiiyah, yang merupakan pendapat Ashah (lebih valid), yakni antara fardhu & wajib adalah sinonim, bermakna khithab Allah yang menuntut dilakukannya sebuah pekerjaan dengan tuntutan bersifat mengharuskan. Ini artinya, dalam contoh diatas, membaca Al Quran yang dimaksud dianggap sebagai kesempurnaan sholat adalah bacaan al fatihah. Artinya, akan menjadi batal (baca: tidak sah) seseorang yang sholat tanpa disertai dengan membaca Al Fatihahnya Al Quran.

Akan tetapi kedua pendapat tersebut tidak mempengaruhi eksistensi penyebutan silang pendapat pendapat bersifat retorika lafaz. Karena persoalan tersebut sudah masuk dalam ranah fiqhiyyah yang tidak dipersoalkan dalam penamaan fardhu dan wajib dalam pembahasan ini¹.

Disamping wajib & (1) fardhu (الفرض), nama lain keduanya adalah:

(2) Al Laazim (اللازم)
(3) Al Muhattam (المحتم)
(4) Al Maktuub (المكتوب)

-----
¹Jalaluddin Al Mahalli, Syarh Jam'i Al Jawami, vol. 1, hlm. 88-89. Juga, Prof. Dr. KH. Sahal Mahfudz, Thariqah al Hushul, vol. 1, hlm. 29.